Traveling? Terbang pakai maskapai apa? Favoritmu?

Suka terbang naik maskapai yang mana kalau traveling? Yang nyaman, aman, atau yang paling murah? Semua maskapai pasti ada kelebihan dan kekurangan masing – masing. Tetapi, sebenarnya apa sih yang paling teman – teman suka. Apa saja maskapai favorit teman – teman?

Karena belakangan ini saya lagi ga mood dengan yang namanya traveling, blog ini juga kurang produktif dengan tulisan yang berbau sebuah destinasi. Tetapi, tenang saja, saya masih belum bosan dengan yang namanya menuliskan hal yang berhubungan dengan traveling.Tanpa sadar menulis sudah menjadi hobi saya yang baru 🙂

Kali ini saya mau berbagi tentang pengalaman saya naik pesawat milik beberapa maskapai. Tentunya review saya tentang beberapa maskapai pesawat terbang kali ini bukanlah iklan, tetapi seratus persen pengalaman saya ketika menggunakan armada maskapai tersebut. Oke, berikut maskapai yang pernah saya coba, mulai dari yang menurut saya terbaik.

(Baca Juga : Terbang Siang Atau Malam, Pilih Mana?)

1. Garuda Indonesia

Maskapai Garuda Indonesia
Maskapai Garuda Indonesia

Meskipun di cap sebagai maskapai dengan tarif yang mahal, Garuda Indonesia tetap menjadi layanan penerbangan paling favorit buat saya. Entah kenapa dalam satu tahun terakhir ini saya selalu mendapatkan tiket promo yang harganya selalu lebih murah dari maskapai sejuta umat yang identik dengan warna merah ( you know who lah ).

Sejujurnya gosip kalau Garuda Indonesia itu maskapai yang mahal tidak selalu benar. Kadang harga tiket Garuda Indonesia ini hanya berbeda 50-100 ribu saja dengan maskapai lain. Bedanya kalau yang lain kita masih harus membeli bagasi lagi, sedangkan Garuda Indonesia sudah termasuk gratis bagasi 20 kg.

Sering juga tiket maskapai ini malah lebih murah dari yang lain, seperti ketika saya mendapatkan tiket Jakarta – Denpasar hanya dengan harga 500 ribu(dapet makan dan free bagasi 20 kg). Padahal waktu itu harga tiket maskapai Low Cost Carrier lain paling murah sekitar 600 ribu.

Mengenai pelayanan, jangan ditanyakan lagi dah! Sebagai National Flag Carrier kebangganan indonesia yang nomor satu, cabin crew Garuda Indonesia selalu memberikan pelayanan yang sopan dan ramah. Selama ini saya belum pernah mengalami pelayanan yang kurang mengenakkan ketika naik maskapai ini. Tidak salah lah kalau Garuda Indonesia baru aja menang award World’s Best Regional Airline.

Keramahan : ***** Keamanan : ***** Kenyamanan: ***** Harga : ***

Catatan : Bisa lebih murah dari maskapai lain untuk penerbangan domestik.

2. Air Asia Indonesia

Maskapai Air Asia Indonesia
Maskapai Air Asia Indonesia

Traveler sekalian, siapa yang gak tahu dengan maskapai yang satu ini? Saya kira tidak ada ya. Bahkan bisa dibilang kalau Air Asia adalah maskapai sejuta umat, karena  saking murahnya harga yang diberikan. Mungkin juga hanya Air Asia yang berani memberikan promo tiket dengan harga nol rupiah.

Air Asia adalah maskapai favorit kedua saya setelah Garuda Indonesia. Apalagi jika saya sudah tidak bisa menemukan lagi tiket maskapai Garuda Indonesia degan harga yang sesuai dengan kantong. Sebagai maskapai Low Cost Carrier air asia sering sekali memberikan promo tiket murah.

Hanya saja, tanggal terbang yang berlaku untuk tiket promo selalu tidak berjodoh dengan rencana liburan saya. Terhitung saya baru 2 kali naik maskapai ini, ketika ke singapore dan pulang kampung sebelum lebaran kemarin, Juga masih ada dua tiket pulang pergi untuk tahun depan yang saya beli dengan total harga 20 ribu.

Pelayanan yang super ramah seperti Garuda Indonesia memang bukan kekuatan utama maskapai Low Cost Carrier ini. Pelayanan yang masih dapat diterima , keamanan yang terjamin dan harga murah-lah yang membuat saya suka dengan maskapai ini.

Untuk kenyamanan yang lebih, jangan terlalu diharapkan. Saya sempat mati gaya ketika terbang sekitar 3 jam dari Singapore menuju denpasar kemaren, gara – gara lupa ngambil buku buat dibaca. Sebagai informasi saja, di pesawat Air Asia tidak ada on demand entertaiment seperti di pesawat Garuda Indonesia yang bisa dimainin sesuka hati. Yah, ada harga ada rupa sih! 🙂

Keramahan : **** Keamanan : ***** Kenyamanan: *** Harga : *****

Catatan : Maskapai termurah untuk terbang ke negara – negara asean dari Indonesia.

(Baca Juga : Berbagi Pengalaman Terbang Dengan Royal Brunei Airlines)

3. Lion Air

Maskapai Lion Air
Maskapai Lion Air

Nah, kalau maskapai yang satu ini adalah maskapai yang memberikan pengalaman terbang pertama kali buat saya. Tidak ada yang spesial sih, soalnya saya juga baru sekali saja naik maskapai ini, ketika harus terbang dari Surabaya menuju Jakarta.

Pelayanan maskapai yang satu ini lumayan lah, pertamakali naik pesawat tidak ada masalah buat saya. Yang ada malah saya bikin sedikit masalah, saya hampir ketinggalan naek pesawat pertama saya. Untungnya saya masih diperbolehkan boarding ke pesawat, meskipun harus sedikit berdebat dengan petugas bandaranya Lion Air. Hihi, maaf ya, yang salah bukan saya kok, salah sendiri pake ada acara macet segala di Surabaya 😛

Keramahan : *** Keamanan : **** Kenyamanan: *** Harga : ****

4. Citilink

Maskapai Citilink!
Maskapai Citilink!

Pertama kali dan terakhir kali saya naik maskapai yang satu ini adalah mudik lebaran 2012 kemarin. Kenapa? Waktu itu saya tertarik membeli tiket di maskapai ini karena ada promo tiket seharga 79 ribu saja. Dengan harga segitu, seharusnya saya tidak boleh telalu banyak protes yah, hihihi.

Tetapi pengalaman tidak menyenangkan tetaplah pengalaman tidak menyenangkan. Mungkin saya akan menggunakan jasa maskapai ini lagi kalau sudah benar – benar kepepet dan tidak ada pilihan lain, sorry Citilink hehe!

Keramahan : **** Keamanan : *** Kenyamanan: *** Harga : ****

(Baca Juga : Kejutan Saat Terbang Dengan Pesawat Itu Pasti Ada!)

5. Sriwijaya Air

Pesawat Sriwijaya Air
Pesawat Sriwijaya Air

Saya baru sekali naik Sriwijaya Air, beruntungnya saya langsung mencoba business class mereka. Pengalaman pertama naik Sriwijaya Air pengalamannya juga cukup menyenangkan. Tidak ada delay, dan sampai di bandara tujuan dengan tepat waktu.

Pelayanan di business class Sriwijaya Air juga cukup menyenangkan. Saya ditawari terlebih dahulu ingin pesan makanan apa sebelum terbang. Ketika baru duduk saya juga diberi welcome drinks untuk menyegarkan diri. Yang menjadi catatan adalah, meskipun business class, namun kursi yang saya tempati terkesan biasa. Bahkan masih jauh lebih bagus kelas ekonomi Garuda Indonesia.

Selain itu tidak ada Audio Video on Demand di Business Class Sriwijaya Air. Jadi sepanjang perjalanan saya hanya tidur saja, dari pada bosan. Satu lagi, kemarin saya terbang dari Denpasar ke Jakarta dengan pesawat Boeing 737-500 yang bisa dibilang pesawat lama. Mungkin juga itu yang menyebabkan tidak ada AVOD atau desain kursi pesawat yang agak ketinggalan jaman.

Keramahan : ***** Keamanan : **** Kenyamanan: *** Harga : ****

6. Trans Nusa

Maskapai TransNusa
Maskapai TransNusa

Nama resminya adalah PT. TransNusa Aviation Mandiri, atau lebih enak kalau disingkat menjadi TransNusa yang juga merupakan nama bekennya. Ini adalah sebuah maskapai penerbangan domestik di Indonesia yang banyak melayani daerah Indonesia timur. Terutama Nusa Tenggara dan Bali. Basis utama dari maskapai ini berada di Bandar Udara El Tari, Kupang.

Pertama kali saya naik TransNusa adalah ketika akan terbang dari Lombok ke Labuan Bajo. Saya terbang dengan salah satu armada TransNusa Fokker 50, yang juga berarti pesawat terkecil yang pernah saya naiki selama ini. Pengalaman selama terbang cukup menyenangkan. Dalam penerbangan ini saya mendapatkan roti dan air mineral sebagai kompliment.

Keramahan : **** Keamanan : *** Kenyamanan: *** Harga : ****

7. Batik Air

Inflight entertaiment Batik Air yang menurut saya terlalu sederhana
Inflight entertaiment Batik Air yang menurut saya terlalu sederhana

Sebenarnya saya sudah lama pengen review si Maskapai Batik Air ini. Cuma baru kemarin waktu terbang ke Bali dari Jakarta saya baru sempat mencobanya. Maskapai ini diklaim sebagai maskapai full boardnya Lion Air group. Dapat makan gratis, ada layar yang isinya video on demand sebagai hiburan ketika terbang.

Untuk makanannya sendiri ketik terbang dari Jakarta ke Denpasar kemarin, saya dapat irisan martabak dan sebiji kroket dengan air mineral sebagai minumnya. Untuk maskapai yang diklaim sebagai full board, bisa dibilang cukup oke, meski masih jauh dari ekspektasi saya.

Snack on board Batik Air
Snack on board Batik Air

Lalu bagaimana dengan fasilitas video on demand di pesawat? Selama ini video on demand selalu jadi andalan saya untuk melawan kebosanan selama terbang. Namun video on demand Batik Air ini malah bikin saya bosan. Isinya sedikit, dan agak kurang up to date. Yah paling tidak untuk servisnya masih jauh lebih baik daripada Lion Air sih.

Keramahan : *** Keamanan : **** Kenyamanan: **** Harga : ****

8. Royal Brunei Airlines

Yang paling saya suka sih ini, Kari Daging dengan sambal yang lezat!
Yang paling saya suka sih ini, Kari Daging dengan sambal yang lezat!

Saya sempat mencobanya sekali ketika terbang dari Jakarta – Kota Kinabalu, transit di Bandar Seri Begawan, Brunei. Maskapai yang satu ini adalah maskapai full board dan maskapai nasionalnya Brunei Darussalam. Satu yang saya ingat dari maskapai ini, inflight meal nya enak dan awesome. Makanan berlemak dan berbumbu memang sas banget di lidah asia saya.

Untuk inflight entertaiment sendiri Garuda Indonesia masih lebih baik. Soalnya fasilitas audio video on demand tidak ada pada tiap kursi penumpang dan nggak bisa milih sendiri hiburan yang kita inginkan. Tapi menurut saya sudah cukup oke untuk penerbangan jarak pendek. O iya, satu yang menarik dari maskapai Royal Brunei Airlines ini. Sebelum terbang pasti diputar terlebih dahulu video doa perjalanan. Nah untuk yang penasaran full review Royal Brunei Airlines bisa dibaca disini.

Keramahan : **** Keamanan : ***** Kenyamanan: ***** Harga : ****

9. KLM

Menggenggam snack vegetarian dan nonton film Ki Mi No Na Wa di AVOD KLM Dutch
Menggenggam snack vegetarian dan nonton film Ki Mi No Na Wa di AVOD KLM Dutch

Saya naik KLM ini baru sekali, yaitu dari Kuala Lumpur ke Jakarta. Awalnya nggak ada niat pengen naik maskapai ini, cuma karena harganya lagi nggak beda jauh dari pada Air Asia, yaudah deh, sesekali cobain. Saya dapet tiket ekonomi dengan harga IDR 800 ribu, sudah termasuk bagasi 23 KG dan makanan.

Karena pada dasarnya maskapai ini terbang dari Belanda sana, jadinya saya dapat pesawat gede Boeing 777-300. Sementara itu untuk makannya hanya berupa snack seperti pastel tapi berisi kentang. Saya nggak tahu apa itu, tetapi rasanya enak sih. Terus yang paling keren menurut saya adalah audio video on demand-nya! Sistemnya keren, AVOD garuda aja lewat kali ini 😛

Keramahan : ***** Keamanan : ***** Kenyamanan: ***** Harga : ****

10 Qantas

Snack dari Qantas, wortel dicocol mayonaise
Snack dari Qantas, wortel dicocol mayonaise

Saya naik Qantas sekali ketika terbang dari Australia ke New Zealand kemaren. Awalnya sih sebenarnya pengen coba naik Air New Zealand, cuma karena jadwalnya kurang pas jadilah saya cobain Qantas saja. Penerbangan saya kemarin adalah penerbangan transit, jadi saya sempat mencoba penerbangan domestik Qantas dari Sydney ke Melbourne, lalu dilanjutkan Melbourne – Christurch, New Zealand.

Qantas ini termasuk maskapai full board dengan inflight meals. Sayangnya saya nggak terlalu banyak mencoba fasilitas ini itu dari Qantas karena terbang malam. Capek euy terbang malam hari lintas zona waktu itu. Namun yang berkesan adalah, snack mereka itu vegetarian friendly banget dan satu-satunya pesawat yang saya coba dimana saya bisa dapet free wine :9

Jadi sekali lagi… Apa maskapai favoritmu?  Kasih tahu dong lewat kolom komentar dibawah 🙂

*Next Update Bakal Nambah Korean Airlines, Japan Airlines And ANA

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

The Cultural Shock! Apa Itu Arti Dan Penjelasannya?

Beberapa waktu lalu saya sempat kedatangan teman dari malaysia, dari situ lah saya sedikit merasakan apa itu Cultural Shock atau Kejutan Budaya.

Apa Itu Cultural Shock?

Tentang Cultural Shock, atau Gegar Budaya
Tentang Cultural Shock, atau Gegar Budaya

Sebenarnya apa sih Cultural Shock atau Kejutan Budaya itu?

Cultural Shock atau Kejutan budaya merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kegelisahan dan perasaan (terkejut, kekeliruan, dll.) yang dirasakan apabila seseorang tinggal di kebudayaan atau mengetahui kebudayaan yang berlainan sama sekali, seperti ketika berada di negara asing.

Perasaan ini timbul akibat kesukaran dalam asimilasi kebudayaan baru, menyebabkan seseorang sulit mengenali apa yang wajar dan tidak wajar (sumber : wikipedia).

Nah kebetulan saya merasakan sendiri apa yang namanya Cultural Shock atau Kejutan Budaya gara – gara saya kedatangan seorang teman yang saya kenal di couchsurfing (www.couchsurfing.org). Dia seorang warga negara Malaysia yang tinggal di Singapura.

Kebetulan dia ingin berlibur ke Bali, dan meminta saya untuk memberikan tumpangan selama 2 hari selama di Bali.

Ya saya iyakan saja, sekalian mau ngetes level english saya seberapa “dewa”.

Yang belakangan diketahui level english saya masi level ba bi bu Haha!

Harus banyak belajar lagi!

Belajar Banyak Perbedaan Budaya Lewat Couchsurfing

The Cultural Shock! Apa Itu Arti Dan Penjelasannya?
Cultural Shock atau Kejutan Budaya

(image source)

Selama menginap di tempat saya teman baru saya tadi bilang, sebenarnya dia bisa saja menginap di hotel, tapi dia bilang liburan – nya jadi gak berarti, karena dia ingin merasakan kehidupan orang lokal yang sebenarnya.

Hemm, tampaknya saya harus mencoba model liburan yang seperti ini sesekali.

Sebagai seorang warga negara Malaysia yang tinggal di Singapura, logat bahasa ingrisnya sangat kental dengan logat singlish atau Singaporean english.

Which is fun to talk with (bahasa inggris yang unik menurut saya).

Buat yang penasaran apa itu singlish bisa baca keterangannya di wikipedia (klik disini).

Dua hari saya ajak berkeliling di Bali, teman baru saya banyak sekali bertanya tentang hal yang menurutnya unik.

Seperti kenapa setiap orang indonesia minuman favoritnya adalah teh botol sosro.

Karena dia melihat banyak sekali orang makan dengan minumannya adalah teh botol sosro.

Kalau boleh saya jawab mungkin seperti slogannya sih “apapun makanannya minumannya tetap teh botol sosro”.

Bukan promosi lho haha!

Akibat tinggal di negara seperti Singapore, efisiensi mungkin adalah prioritas baginya.

Bukan Cuma Saya Yang Kena Cultural Shock

Saya sempat terkaget – kaget antara malu dan bingung mau jawab apa, ketika setelah makan malam mau pergi ke minimarket di seberang, dan saya mulai menyalakan motor saya.

Are you sure to use your motorcyle, instead of walking?” Tanya dia.

Jdarrrr! Saya lupa kalo teman saya ini tinggal di Singapura, jarak segitu mungkin lebih efisien kalau jalan kaki saja, karena hanya berada di seberang jalan.

Tapi dasar saya orang indonesia asli saya pun menjawab.

Yeah, because we’ll go home directly after this” Kata saya.

Bukannya males sih, tapi emang udah kebiasaan seperti itu. Mau ngerubah ya gak bisa lagsung, dan inilah salah satu bentuk Cultural Shock atau Kejutan Budaya itu.

Kebetulan saya juga ada rencana akan berkunjung ke dua negara tetangga itu, jadi saya juga banyak bertanya bagaimana Singapura?

Bagaimana Malaysia? Dari situ saya banyak tahu kalau Singapura hampir 100% aman, dan Malaysia hemm, harus sedikit berhati – hati.

Dari percakapan kami level Malaysia terutama Kuala Lumpur adalah sedikit diatas Jakarta.

Saya akan coba cek nanti, kalau bisa survive di Jakarta, harusnya di kuala lumpur tidak akan ada masalah.

Berdasarkan pengalaman singkat saya tentang Cultural Shock bukanlah hal yang menakutkan untuk dialami.

Malah suatu hal yang menyenangkan, dari sini kita akan banyak tahu bahwa perbedaan adalah suatu anugerah tuhan.

Dengan mempelajari dan menghargai perbedaan, kita dapat menemukan berbagai macam hal unik dan menarik.

Kalau tidak percaya silahkan mencoba sendiri!

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

Tempat Wisata Seperti Apa itu Takeshita-dori di Tokyo?

Halo semuanya! Kali ini saya akan membahas salah satu tempat paling ikonik di Tokyo, yaitu Takeshita-dori di Harajuku. Jadi, apa itu Takeshita-dori? Mari kita jelajahi bersama-sama.

Takeshita-dori: Surga Belanja di Harajuku

 

 

My Instagram : instagram.com/catperku
My Youtube : youtube.com/@catperku

Takeshita-dori adalah jalan yang terletak di Shibuya-ku, Tokyo, yang membentang dari Stasiun Harajuku hingga Jalan Meiji-dori.

Jalan ini memiliki panjang sekitar 350 meter dan dikenal sebagai pusat perbelanjaan yang penuh dengan gaya dan keunikan.

Unik dan Mencolok

Salah satu hal yang membuat Takeshita-dori begitu istimewa adalah toko-toko yang ada di sana menjual barang-barang yang mencolok dan unik.

Kamu akan menemukan berbagai pakaian dan aksesoris yang mungkin tidak kamu temukan di tempat lain.

Takeshita-dori adalah jalan yang terletak di Shibuya-ku, Tokyo

Busana Harajuku

Takeshita-dori juga terkenal dengan kelompok berpakaian yang disebut “busana Harajuku.”

Ini adalah gaya berpakaian yang sangat kreatif dan ekspresif, seringkali dengan sentuhan lucu dan manis.

Jadi, jika kamu mencari pakaian atau aksesoris yang berbeda dari yang lain, inilah tempatnya.

Ramai Pada Akhir Pekan

Takeshita-dori seringkali paling ramai pada akhir pekan dan hari libur.

Saat itulah tempat ini dibanjiri oleh orang-orang muda, terutama para remaja perempuan.

Jadi, jika kamu ingin merasakan keramaian dan energi positif, datanglah saat akhir pekan.

Takeshita-dori juga terkenal dengan kelompok berpakaian yang disebut busana Harajuku.

Kawaii Culture

Tempat ini juga merepresentasikan budaya “kawaii” di Jepang, yang berarti “lucu” atau “manis.”

Semua hal di Takeshita-dori, mulai dari pakaian hingga makanan, memiliki sentuhan kawaii yang membuatnya begitu menarik.

[ Baca Juga: Itinerary Liburan Musim Gugur Di Jepang – Kuliner, Wisata Alam! ]

Berburu Fashion di Takeshita-dori

Takeshita-dori adalah surga bagi mereka yang mencari fashion yang unik dan ekspresif. Berikut beberapa tempat yang perlu kamu kunjungi jika kamu adalah penggemar fashion Harajuku:

SPINNS

SPINNS adalah toko pakaian yang sangat populer di kalangan remaja.

Di sini, kamu dapat menemukan pakaian pria dan wanita yang trendi dengan harga terjangkau.

Kamu akan menemukan berbagai jenis pakaian yang merepresentasikan Harajuku Fashion, seperti sweatshirt dengan gambar tokoh anime atau rok ala lolita.

Jadi, jika kamu ingin tampil gaya ala Harajuku, kunjungi SPINNS.

ALTA

Gedung yang berisi toko-toko pakaian ALTA menjual pakaian dan aksesoris wajib bagi para penggemar Harajuku Fashion.

Kamu akan menemukan berbagai aksesoris menggemaskan dengan gambar tokoh anime dan karakter lainnya.

Selain itu, gedung ini sangat ramai pada hari libur, dengan banyak anak muda yang mencari barang-barang keren di sini.

Hal Seru Lain Yang Bisa Kamu Lakukan di Takeshita-dori Harajuku

Selain berbelanja di Takeshita-dori, ada banyak hal seru lainnya yang bisa kamu lakukan di Harajuku.

Berikut beberapa rekomendasi:

Membeli Oleh-Oleh di Daiso Harajuku

Daiso adalah toko serba 100 yen yang terkenal di Jepang, dan kamu bisa menemukan cabangnya di Harajuku.

Di sini, kamu dapat membeli berbagai barang dengan harga terjangkau, mulai dari peralatan rumah tangga hingga kosmetika.

Ini adalah tempat yang sempurna untuk membeli oleh-oleh atau cendera mata unik dari Jepang.

Jangan lupa untuk membawa pulang beberapa barang dari sini!

AKB48 Official Shop

Bagi para penggemar AKB48, Harajuku memiliki toko resmi AKB48 yang wajib kamu kunjungi.

Di sini, kamu dapat menemukan berbagai pernak-pernik dan aksesoris khas AKB48.

Jika kamu adalah penggemar berat grup idola ini, pastikan untuk mampir ke toko ini.

Bersantai di Tokyu Plaza Omotesando Harajuku

Jika kamu butuh istirahat dari berbelanja, Tokyu Plaza Omotesando Harajuku adalah tempat yang sempurna.

Di sini, kamu dapat menikmati suasana yang tenang di tengah hiruk-pikuk Harajuku.

Ada sebuah ruang terbuka hijau yang disebut “Hutan Omohara” di bagian atas gedung, tempat kamu dapat duduk-duduk dengan nyaman di bawah pepohonan rindang.

Jadi, jika kamu ingin melepaskan penat, luangkan waktu sejenak di sini.

Berfoto di St. Valentine Harajuku

Bangunan Gereja St. Valentine Harajuku adalah salah satu spot foto unik di Harajuku. Tembok bangunan ini dihiasi dengan motif matematika seperti “+”, “=”, dan “♡”.

Tempat ini sangat populer bagi pasangan muda yang ingin berfoto romantis.

Jadi, jika kamu ingin mengambil foto yang unik dan berkesan, jangan lewatkan bangunan ini.

Cara Pergi ke Takeshita-dori di Harajuku

Dari Shinjuku Station

Dari Shinjuku Station, kamu dapat naik JR Yamanote Line ke Harajuku Station.

Tiketnya sekitar 140 Yen, dan perjalanan hanya memakan waktu sekitar 4 menit.

Setelah tiba di Harajuku Station, kamu bisa langsung menuju Takeshita-dori.

Dari Shibuya Station

Dari Shibuya Station, juga ada opsi untuk naik JR Yamanote Line ke Harajuku Station.

Tiketnya sama, sekitar 140 Yen, tetapi perjalanan hanya sekitar 2 menit.

Setelah tiba di Harajuku Station, kamu tinggal berjalan ke Takeshita-dori.

Naik Kereta Bawah Tanah (Subway)

Kamu juga dapat menggunakan kereta bawah tanah (subway) untuk menuju Harajuku.

Naik Chiyoda Line atau Fukutoshin Subway Line dan turun di Meiji Jingu Mae Station.

Alternatif lainnya adalah naik dari Omotesando Station dengan menggunakan Chiyoda Line, Ginza Line, atau Hanzomon Line.

Setelah itu, kamu bisa berjalan kaki ke Takeshita-dori.

Jadi, itu dia beberapa hal yang perlu kamu ketahui tentang Takeshita-dori di Harajuku.

Ini adalah tempat yang sempurna untuk berbelanja, menjelajahi budaya pop Jepang, dan menghabiskan waktu yang menyenangkan di Tokyo.

Jangan lupa untuk mencoba makanan khas Jepang yang lezat dan mengambil beberapa foto selfie yang keren selama kamu berada di sini!

Flashpacker, Traveling Seperti Apa itu

Flashpacker sendiri adalah suatu istilah baru dalam dunia jalan-jalan atau travelling, yang baru saja populer dalam beberapa tahun terakhir. Y

ang pertama Flashpacker adalah seorang backpacker yang selalu membawa banyak gadget (baca : peralatan elektronik) seperti handphone, kamera, laptop, mp3 player dsb ketika berpergian.

Sedangkan yang kedua seorang flashpacker adalah backpacker yang memiliki anggaran lebih dalam berpergian.

Hanya saja, baik itu seorang backpacker, flashpacker, peserta tour ataupun pejalan bisnis, jaman sekarang?

Siapa sih yang tidak membawa setidaknya 1 dari barang-barang berikut ketika pergi jalan-jalan : handphone, kamera, iPod, mp3 player atau laptop?

Ngaku aja deh!

Apa Itu Flashpacker!!??

Siapa lebih suka traveling dengan ala flashpacker?
Siapa lebih suka traveling dengan ala flashpacker?

Adakah yang tidak mau mengambil foto untuk kenang-kenangan ketika jalan-jalan?

Siapa juga yang ngak ingin langsung pasang status di facebook atau upload photo-photonya di blog seketika untuk pamer ( baca : berbagi cerita dan berbagi informasi ) tentang perjalanan kamu ?

Dan yang lebih penting lagi, siapa sih yang mau pergi “menghilang” dari radar keluarga dan teman-teman dengan tidak membawaalat komunikasi atau tanpa mengakses email sama sekali?

Siapa sih yang tidak berpikir untuk mendengar sedikit musik selama dalam perjalanan untuk mengusir rasa bosan? Not me.

Tanpa kita sadari, dan juga harus diakui, peralatan elektronik pribadi seperti handphone, kamera, mp3 player bahkan laptop sudah tidak lagi merupakan sebuah kemewahan.

Tetapi lebih merupakan kebutuhan yang semakin penting sebagai wujud eksistensi di zaman modern ini, apalagi bagi orang yang memang secara ekonomi sanggup berpergian.

Terus apabila Flashpacker didefinisikan sebagai Backpacker dengan peralatan elektronik berjubel, lantas apa bedanya dengan Backpacker pada umumnya?

Kalau Backpacker sekarang memang sudah seperti itu?

Berbicara masalah anggaran, bagaimana pula yang dikatakan memiliki anggaran lebih?

Apakah hanya karena seorang backpacker yang mencintai privasi yang kemudian memilih untuk mengambil kamar sendiri daripada berdesak-desakan dengan 4 sampai 6 orang lainnya dalam 1 kamar lantas disebut memiliki anggaran lebih?

Bisa jadi sang traveler tersebut memilih untuk mengambil kamar sendiri karena memiliki gejala insomnia sehingga membutuhkan keheningan total untuk jatuh tertidur.

Atau karena menyadari dirinya selalu ”ngorok” kalau sudah tertidur pulas sehingga tidak mau mengganggu teman seperjalanan lainnya.

Bahkan bisa juga punya kebiasaan nyentrik untuk menyetel lagu rock sebelum tidur.

Terlalu banyak alasan, tetapi tidak serta merta menunjukkan bahwa mereka memiliki anggaran lebih.

Jadi Definisinya Seperti Apa?

Alih-alih menitiberatkan definisi pada gadget dan anggaran, Wikipedia yang merupakan kiblat informasi sejuta umat mendefinisikan Flashpacker secara lebih mengena, yakni adalah backpacking with flash, or style, atau orang yang melakukan perjalanan backpacking dengan gaya sendiri nah kalau yang ini sih gua banget, karena dalam ketika travelling gua selalu pengen keliat beda, pokoknya no ordinary travelling dah.

Terus, bagaimana lagi yang dinamakan backpacking dengan gaya sendiri?

Jawabannya bisa beragam, tergantung preferensi dan gaya, tetapi intinya adalah pilihan.

Flashpacker lebih tepat disebut kaum penggila jalan-jalan yang memposisikan diri di tengah 2 ekstrem, yakni Backpacker dan Turis.

Kaum Flashpacker lebih moderat dari Backpacker dalam hal pengontrolan anggaran karena lebih berorientasi kepada tujuan perjalanan atau pengalaman yang hendak dicari, sehingga anggaran bukanlah yang terpenting.

Backpacking, Tapi Juga Mementingkan Kenyamanan

Akan tetapi, Flashpacker tetap berbagi prinsip dan semangat yang sama dengan Backpacker untuk mengeksplorasi dan mendalami suatu destinasi dengan sebaik-baiknya tanpa harus terlena dalam kenyamanan ekstra ala turis tetapi terjebak dalam kekakuan jadwal yang serba mengikat.

Satu karakteristik utama paling menonjol yang membuat kaum Flashpacker menyandang kata “Flash” (baca : gaya) adalah karena prinsip untuk selalu memilih apa yang mereka inginkan ketika berpergian, tanpa perlu harus terjebak ke dalam aturan, gengsi, status, paham, penampilan atau identitas kelompok, sehingga anggaran seringkali bukan suatu hal yang terlalu diambil pusing.

Berpergian dengan full service airlines, LCC (Low Cost Carrier), ferry, cruise ship, kapal laut, kereta api, bus, mobil, sepeda motor bahkan sepeda atau jalan kaki, semuanya bisa dipertimbangkan kalau diperlukan apabila memang sesuai dengan tujuan berpergian, pengalaman yang hendak didapatkan, ataupun cuma hanya diinginkan secara spontan.

Pakai baju yang fancy atau malah yang gembel sekalian asik-asik aja.

Tinggal di hotel berbintang, hostel, losmen atau malah camping, semuanya sah-sah saja kalau memang itu yang diinginkan atau memberikan pengalaman yang hendak dicari.

Singkatnya, flashpacker itu berpergian ala gue, atau, traveling yang gue banget !

Seorang Flashpacker bisa merasa nyaman saja untuk tinggal di hostel seharga USD 10.- per malam yang dekat dengan Taj Mahal supaya subuh paginya bisa mengambil foto Taj Mahal dengan latar matahari terbit.

Kemudian siang harinya terbang dengan Singapore Airlines dari New Delhi menuju Bangkok dan menginap di Hotel Sheraton Bangkok.

Itu untuk mendapatkan kenyamanan beristirahat yang lebih setelah stamina fisiknya terkuras habis akibat melewati medan perjalanan yang berat di India selama berhari-hari.

Begitu sudah cukup beristirahat, ia bisa melanjutkan perjalanan ke Chiangmai lewat jalan darat dengan bus non AC hanya untuk dapat menyaksikan secara dekat kehidupan wilayah pedesaan di Thailand.

See? Semuanya adalah mengenai pilihan.

Masuk Ke Kaum Traveler Independent!

Menurut definisi umum yang beredar, profil kaum Flashpacker dideskripsikan sebagai kaum pelancong independen yang memiliki pekerjaan tetap dengan tingkat penghasilan menengah keatas, sehingga mereka memiliki waktu libur yang singkat tetapi sebaliknya memiliki anggaran yang lebih longgar.

Karena memiliki pekerjaan tetap yang sibuk, maka kebutuhan untuk berkomunikasi selama perjalanan menjadi teramat penting yang mana menjelaskan kebutuhan untuk selalu membawa tech gear berjubel ke mana pun mereka pergi.

Bagi rata-rata Flashpacker, tujuan atau pengalaman yang didapat dari suatu perjalanan adalah segala-galanya, sekalipun itu berarti harus memilih pesawat terbang yang mahal untuk mempersingkat waktu, atau mungkin harus tinggal di hotel berbintang supaya kualitas istirahat lebih baik.

Sekali lagi, selama semua pilihan tersebut sejalan dengan tujuan perjalanan.

Bagi kaum Flashpacker, you are how you travel, jalan-jalan bukan hanya sekedar jalan-jalan, tetapi juga merupakan wujud ekspresi diri, seperti halnya penampilan, gaya berbusana, buku yang dibaca atau gadget yang dipakai.

Termasuk Flashpacker Yang Manakah Kamu ?

Sekalipun pengertian Flashpacker beredar dalam 2 aliran utama, yakni Backpacker beranggaran lebih dan Backpacker dengan seisi tas penuh tech gear, sebenarnya jauh lebih tepat untuk mengatakan bahwa kedua pengertian yang beredar tersebut hanyalah dua diantara beberapa tipe kaum Flashpacker yang bisa diamati.

Termasuk Flashpacker Yang Manakah Kamu ?

Dari berbagai sumber, ada beberapa tipe Flashpacker yang dirangkumkan sebagai berikut :

1. The Geeky Flashpacker

Bagi golongan ini, terkoneksi dengan dunia setiap saat sudah menjadi sebuah kebutuhan pokok seperti oksigen, sehingga tidak mungkin untuk berpergian kemana-mana tanpa menenteng setas penuh gadget dari yang paling umum seperti handphone, blackberry, mp3 player, kamera, laptop sampai yang dipakai technogeek seperti telepon satelit dan GPS keluaran terbaru.

Mimpi buruk terbesar selama perjalanan adalah ketika mendapatkan baterai habis ketika peradaban terdekat berada 50 km jauhnya, dan kiamat tiba ketika mereka “hilang” sama sekali dari radar dunia dikala semua gadget mereka tidak dapat berfungsi.

2 .The Minted Flashpacker

Golongan ini adalah Flashpacker yang mengutamakan kenyamanan berpergian diatas segala-galanya dan tidak pernah ragu untuk menghabiskan dana ekstra untuk mendapatkan kenyaman dan kemudahan lebih dalam perjalanan mereka.

Ketika dihadapkan pada pilihan pergi ke suatu destinasi dengan kereta api selama 5 jam atau terbang selama 1 jam walaupun akan menghabiskan dana 2 – 3 kali lebih besar, mereka memilih terbang.

Bagi golongan ini, anggaran selalu bukan suatu masalah. Sebaliknya, waktu dan kenyamanan itu maha penting.

Tinggal sekamar bersempit-sempitan dengan pelancong lain atau berbagi toilet dan dapur umum? Oh that is so not us menurut golongan ini.

3.The Savvy Flashpacker

Golongan ini adalah yang paling mewakili kaum Flashpacker sejati yang berorientasi kepada tujuan perjalanan dan pengalaman, dan berani mencoba apa saja selama pengalaman itu adalah memang yang diinginkan,tanpa harus terjebak dalam aturan, gengsi, status atau identitas kelompok.

Tujuan perjalanan atau pengalaman yang dicari adalah segala-galanya bagi golongan ini, walaupun harus menghabiskan waktu atau dana ekstra.

Sebuah perjalanan baru dikatakan sukses kalau tujuan atau pengalaman yang mereka cari sudah tercapai. Sekalipun itu berarti harus berdesak-desakan dalam bus rakyat non AC yang dipenuhi oleh petani.

Itu hanya untuk merasakan kehidupan pedesaan atau malah menginap di hotel berbintang dengan harga sedikit lebih mahal per malam hanya supaya lebih mudah mencapai lokasi sebuah tempat wisata keesokan subuhnya untuk mengambil foto matahari terbit.

Bagi golongan ini, waktu bisa diatur, dana bisa diusahakan, tapi tujuan dan pengalaman tidak bisa ditawar-tawar.

4.The Minted Geek

Perpaduan dari tipe The Minted & The Geeky.

Golongan ini adalah yang menenteng gadget berjubel dan juga sangat mengutamakan kenyamanan dan kemudahan dalam berpergian.

5. The Savvy Geek

Perpaduan dari tipe The Savvy & The Geeky.

Bagi golongan ini, tujuan perjalanan atau pengalaman yang hendak didapat adalah sama pentingnya dengan kebutuhan untuk terkoneksi dengan dunia setiap saat.

Jadi? termasuk flashpacker yang manakah kamu?

Berani Bermimpi, Berani Traveling, Berani Bertualang!
Ikuti travel blog catperku di social media : Instagram @catperku, Twitter @catperku & like Facebook catperku. Travel blog catperku juga menerima dukungan dengan donasi, dan atau ajakan kerjasama.

Mengapa Jogja sekarang macet? Apa Penyebabnya?

Yogyakarta, atau yang sering disebut Jogja, dikenal sebagai salah satu kota di Indonesia yang memiliki pesona khas tersendiri. Selain kekayaan budayanya, Jogja juga terkenal dengan jalanan yang relatif tidak macet jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kondisi lalu lintas di Jogja mulai mengalami perubahan drastis. Jalanan yang dulu sepi dan lancar kini semakin macet. Mengapa hal ini bisa terjadi? Artikel ini akan membahas faktor-faktor yang menyebabkan Jogja sekarang macet.

1. Pertumbuhan Penduduk dan Kendaraan Bermotor

 

 

My Instagram : instagram.com/catperku
My Youtube : youtube.com/@catperku

Salah satu faktor utama yang menyebabkan kemacetan di Jogja adalah pertumbuhan penduduk yang pesat dan peningkatan jumlah kendaraan bermotor.

Dulu, pada tahun 2000-an, Jogja masih terasa nyaman dengan jumlah kendaraan yang tidak terlalu banyak.

Motor adalah alat transportasi dominan, dan mobil pribadi masih cukup jarang terlihat di jalan.

Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk di Jogja terus bertambah, dan banyak orang yang membeli kendaraan pribadi, terutama motor.

2. Pengurangan Angkutan Umum Konvensional

Dulu, Jogja memiliki angkutan umum konvensional yang melimpah. Terdapat banyak bus kota, minibus, dan angkutan pedesaan yang menghubungkan berbagai kawasan di Jogja.

Hal ini membuat akses transportasi menjadi lebih mudah bagi warga yang tidak memiliki kendaraan pribadi.

Namun, dengan munculnya armada Transjogja sekitar tahun 2008, angkutan umum konvensional mulai tersisihkan.

Transyogya menawarkan layanan yang lebih modern dengan bus ber-AC dan tarif yang masih terjangkau.

Akibatnya, banyak penumpang beralih ke Transyogya, dan angkutan umum konvensional semakin berkurang.

Ini membuat banyak orang yang sebelumnya bergantung pada angkutan umum beralih ke kendaraan pribadi.

[ Baca Juga: 8 Tempat Wisata Dekat Malioboro Favorit Saya! ]

3. Kurangnya Armada Transyogya yang Cukup

Salah satu masalah dengan Transyogya adalah jumlah armadanya yang masih terbatas.

Meskipun Transyogya menjadi populer di kalangan warga Jogja karena layanan yang nyaman dan harga yang terjangkau, jumlah bus yang tersedia masih jauh dari cukup.

Jumlah armada Transyogya tidak mampu menyamai jumlah angkutan umum konvensional yang sudah ada sebelumnya.

Hal ini menyebabkan penumpang harus menunggu sangat lama di halte, terutama pada jam-jam sibuk.

Waktu tunggu yang lama ini membuat jadwal perjalanan menjadi tidak teratur, dan banyak orang yang memilih kendaraan pribadi agar lebih fleksibel dalam perjalanan mereka.

4. Pertumbuhan Kawasan Perkotaan

Pertumbuhan kawasan perkotaan di Jogja juga berkontribusi pada kemacetan lalu lintas.

Seiring dengan perkembangan ekonomi dan budaya, banyak tempat hiburan, mal, restoran, dan tempat-tempat lainnya yang dibangun di berbagai kawasan di Jogja.

Hal ini menarik banyak pengunjung dan wisatawan, yang akhirnya menambah volume lalu lintas di jalan-jalan utama.

Selain itu, pertumbuhan kawasan perkotaan juga menciptakan kebutuhan akan kendaraan pribadi, seperti mobil, yang semakin banyak terlihat di jalan-jalan Jogja.

5. Perubahan Gaya Hidup

Perubahan gaya hidup juga berperan dalam kemacetan lalu lintas di Jogja.

Seiring dengan kemajuan teknologi dan gaya hidup modern, orang cenderung lebih mobilitas dan memiliki banyak kegiatan di berbagai tempat.

Hal ini mengakibatkan peningkatan penggunaan kendaraan pribadi untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.

Selain itu, munculnya layanan transportasi berbasis aplikasi, seperti ojek online dan layanan penyewaan mobil, juga memengaruhi keputusan orang untuk memiliki kendaraan pribadi dan meningkatkan kemacetan.

6. Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah juga turut berperan dalam kemacetan lalu lintas di Jogja.

Beberapa kebijakan yang mendorong penggunaan kendaraan pribadi, seperti subsidi harga bahan bakar minyak (BBM), dapat meningkatkan jumlah kendaraan di jalan.

Selain itu, kebijakan terkait dengan perizinan bangunan dan perencanaan kota juga dapat memengaruhi pola pergerakan penduduk dan kemacetan lalu lintas.

[ Baca Juga: Stasiun Tugu Jogja Yogyakarta: Pintu Gerbang Menuju Keindahan Kota ]

7. Kurangnya Infrastruktur Transportasi

Kurangnya infrastruktur transportasi yang memadai juga menjadi masalah di Jogja.

Jalan-jalan utama yang masih sempit dan kurangnya jalan tol membuat lalu lintas menjadi lebih padat.

Selain itu, keadaan jalan yang kurang baik juga menyebabkan kemacetan, terutama saat musim hujan ketika banyak jalan yang banjir atau rusak.

Kemacetan lalu lintas di Jogja adalah hasil dari berbagai faktor, termasuk pertumbuhan penduduk, perubahan gaya hidup, kebijakan pemerintah, dan kurangnya infrastruktur transportasi.

Meskipun Jogja masih memiliki pesona khasnya, masalah kemacetan ini perlu mendapatkan perhatian serius untuk menjaga kualitas hidup dan mobilitas penduduk.

Dengan upaya yang tepat, Jogja mungkin dapat kembali menjadi kota yang lancar dan nyaman untuk ditinggali.