Panduan Wisata Gunung Papandayan, Untuk Pendaki Pemula!

Ini adalah panduan wisata ke Gunung Papandayan terbaru 2023 untuk pendaki pemula! Seperti apa? Simak dengan baik sampai selesai di travel blog wisata Indonesia catperku.com ini ya!

Weekend atau akhir minggu adalah hari yang selalu ditunggu para weekend getaway lover seperti saya.

Weekend bisa dibilang adalah hari yang sakral untuk para tawanan kapitalis kantoran, terutama yang tinggal di ibu kota.

Apalagi Jakarta adalah kota yang kering dengan destinasi alam yang bisa bikin pikiran seger.

Untungnya disekitar jakarta ada banyak sekali destinasi alam yang bisa dikunjungi tanpa memerlukan cuti yang menurut saya harganya lebih mahal dari emas itu.

Dan, Gunung Papandayan yang berada di daerah Garut adalah destinasi weekend getaway yang saya pilih kali ini.

*sebenernya udah ngebet banget pengen dikunjungi dari lama sih*

Cerita Mendaki Gunung Papandayan Di Akhir Pekan

Bersama teman baru di Gunung Papandayan
Bersama teman baru di Gunung Papandayan

Gunung Papandayan yang jaraknya kurang lebih sekitar 240 km dari jakarta ini, bisa ditempuh dalam waktu 5-6 jam.

Rute untuk mencapainya pun juga ada banyak pilihan, mulai dari bus sampai kereta juga ada.

Namun berdasarkan perhitungan saya, Jika dari jakarta, naik bus adalah cara yang paling efisien untuk menuju Gunung Papandayan.

Ada dua terminal utama di ibu kota yang bisa bisa digunakan sebagai titik awal keberangkatan menuju Gunung Papandayan, Garut.

Yang pertama adalah Terminal Kampung Rambutan dan yang kedua adalah Terminal Lebak Bulus.

Naik dari manapun jalan yang akan dilewati akan sama yaitu menuju Bandung terlebih dahulu baru ke Garut, lewat jalan tol Cipularang.

Yang membedakan adalah akses menuju kedua terminal tersebut.

Peta jalur Jakarta - Garut melewati jalan tol Cipularang
Peta jalur Jakarta – Garut melewati jalan tol Cipularang

Karena saya kemarin berangkat dari terminal Kampung Rambutan, saya akan sedikit membahas lebih detail rute keberangkatan melalui jalur ini.

Dari Jakarta Pusat, Terminal Kampung Rambutan bisa dicapai dengan bus ac yang lewat jalan Jendral Sudirman (bus ac jurusan Tanah Abang – Kampung Rambutan).

Alternatifnya terminal kampung rambutan juga bisa dicapai dengan Trans-Jakarta meskipun harus beberapa kali transit.

Sampai di Terminal Kampung Rambutan, kemungkinan besar bus akan menurunkan di luar terminal, jadi bisa menunggu diluar terminal atau masuk ke dalam terminal untuk mencari bus dengan tujuan Garut.

Mencarinya pun enggak terlalu ribet, tinggal jalan saja pasti banyak yang nanya “mau kemana mas?” , “ke puncak mas?”, “bandung – banduuung…”, “lamar saya cepet – cepet dong mas” eh, kalau yang terakhir tadi pasti yang bilang pacar saya :p

Kalau yang belum pernah main – main ke terminal, jangan kaget ya,- terminal di Indonesia emang gitu.

Ada banyak banget yang suka kepoin kita kemanapun melangkah.

Entah itu calo tiket, preman, kenek bus sampai mbak – mbak yang mau ngajak kenalan. Yang penting tetap pede aja, fokus sama tujuan awal.

Kata temen yang sudah expert traveling ke Kota Garut, sebenarnya paling enak naik bus dari terminal Lebak Bulus, karena ada bus ekonomi ac Primajasa yang tarifnya pasti.

*enggak kena inflasi seenaknya sama kernet*.

Sedangkan dari terminal Kampung Rambutan sebaiknya tanya – tanya dulu harganya berapa sampai terminal Guntur Garut, baru cincau naik busnya.

Jangan asal naik, yang ternyata disuruh bayar bermilyar – milyar. *miris*

Setelah dapat bus dan duduk manis didalamnya, coba cek apakah persediaan cemilan selama perjalanan masih ada, kalau belum bolehlah berbagi rejeki dengan membeli jajanan yang dijual pedagang kaki lima yang hobi bersliweran keluar masuk bus.

Saran saya buruan beli, karena setelah bus masuk jalan tol, enggak akan ada lagi pedagang yang sliweran keluar masuk.

Tapi kalau cuma berhenti di tol sih sering.

Unik memang, meskipun sudah ada larangan “Dilarang menaikkan dan menurunkan penumpang di jalan tol“, supir bus bakal cuek aja, gak peduli.

Mungkin sudah prinsip mereka kalau peraturan ada untuk dilanggar. Jangan ditiru ya teman – teman 🙂

Pedangang asongan menawarkannya sebagai gehu. Mirip seperti tahu isi, cuma yang ini alotnya minta ampun :|
Pedangang asongan menawarkannya sebagai gehu. Mirip seperti tahu isi, cuma yang ini alotnya minta ampun 😐

Sebisa mungkin berangkat dari Jakarta sebelum dini hari lebih enak lagi kalau sore hari.

Paling enggak sekitar jam 19.00 udah duduk manis kayak artis didalam bus.

Jadi nanti bisa bobok manis di sepanjang perjalan menuju Garut. Kalau saya kemarin cuma bisa bobok manis sampai keluar pintu tol Padalarang saja.

Kenapa? Sudah pasti karena keluar jalan tol jadi banyak pedagang sliweran naik turun bus sambil meneriakkan dagangannya.

Kebetulan juga saya tertarik dengan teriakan pedagang yang meneriakkan “gehu gehu gehu” yang setelah dibeli teman saya ternyata mirip Tahu Sumedang plus tepung yang alotnya minta ampun!

Rada nyeselt sih ==” *tapi paling enggak penasarannya ilang deh* Selanjutnya, jika perjalanan lancar paling enggak akan sampai ke Terminal Guntur sekitar Jam 1 dini hari.

Setelah sampai terminal Garut bisa coba makan dulu, atau jika ingin ke toilet ada satu toilet umum di depan pintu masuk Terminal Guntur, Garut.

Pintu masuk menuju Gunung Papandayan masih lumayan jauh dari Terminal Guntur, perlu naik angkot lagi sekitar 45-1 jam perjalanan tergantung keberuntungan mendapatkan supir angkot yang selow, atau supir angkot ex-driver formula one.

Biasanya harus nunggu sampai 15 orang, atau men-charter angkot jika sudah enggak ada pilihan lagi.

Beruntung saya kemarin ada barengan, selain saya dan kedua orang teman saya, ada 5 orang lagi yang juga datang dari Jakarta.

Dan kami sepakat untuk mencharter si angkot hingga pertigaan ke arah Gunung Papandayan.

Angkot yang mengantarkan dari Terminal Guntur sampai pertigaan menuju Gunung Papandayan
Angkot yang mengantarkan dari Terminal Guntur sampai pertigaan menuju Gunung Papandayan

Tahukah Kamu?

  • Terminal lebak bulus memang lebih dekat, tetapi transportasi yang nyaman dan reliable, cuma untuk saya yang kerja di daerah semanggi, kampung rambutan adalah pilihan, karena ada bus ac yang menuju kampung rambutan. Lagipula tarif bus menuju garut dari jakarta sama saja, yaitu Rp. 42.000 ( Data bulan september tahun 2013 )
  • Asiknya naik bus umum adalah bisa mencoba makanan yang aneh – aneh. Persiapkan saja perut untuk menerimanya, seperti kemarin saya sempat mencoba makanan yang namanya “gehu” *semoga tidak salah denger*
  • Pastikan membawa perbekalan yang cukup, entah makanan dan minuman untuk di bus atau untuk di Gunung Papandayan nantinya. Jangan seperti saya kemarin yang beli minuman di terminal Kampung Rambutan, harga minuman pun jadi dua kali lipat dari harga normal. Kalaupun lupa, mending beli ke pedagang asongan yang harganya masih lebih wajar. Di dekat terminal Guntur, Garut juga ada satu mini market, sayangnya tidak buka 24 jam.
  • Dalam kondisi normal, jarak tempuh Jakarta Garut dengan bus adalah 5-6 Jam.
  • Tarif normal angkot dari Terminal Guntur, Garut sampai pertigaan menuju Gunung Papandayan adalah Rp. 7000 – 8000 rupiah pada siang hari, dan Rp.15000 pada malam hari (dengan catatan ada 15 orang penumpang baru berangkat). Meskipun begitu coba nego saja ketika jumlah orang kurang dari 15 atau tidak mau menungu terlalu lama. Kemarin untuk 8 orang, saya berhasil mendapatkan harga Rp. 20.000 per/orang. (Data bulan september tahun 2013).

Pengalaman Pertama Seorang Pemula Mendaki Gunung Papandayan

Sekitar jam 2 dini hari saya baru sampai ke pertigaan jalan yang menuju Gunung Papandayan. Dan, inilah resiko yang didapat ketika berangkat sore hari dari Jakarta.

Cuma enaknya sampai dini hari, kita bisa mulai naik sekitar jam 5:30, dimana matahari masih di peraduan dan cuaca bisa dibilang masih adem.

Jarak dari pertigaan hingga menuju post awal pendakian masih lumayan jauh.

Di peta saya menunjukkan jarak masih sekitar 9 km lagi, dengan jalan menanjak dan sedikit berkelok – kelok.

Jarak yang masih lumayan jauh dari pertigaan jalan cisurupan menuju pos awal pendakian Gunung Papandayan.
Jarak yang masih lumayan jauh dari pertigaan jalan cisurupan menuju pos awal pendakian Gunung Papandayan.

Awalnya saya memutuskan untuk berjalan kaki saja, anggapan saya dengan jarak tempuh yang hanya 9 km, paling tidak bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 1,5 – 2 jam perjalanan.

Namun hal itu urung saya lakukan, karena pertimbangan ada teman – teman baru yang terbantu jika menyewa mobil bak terbuka sampai pos awal pendakian.

Memang ada dua pilihan untuk menuju pos pendakian, salah satunya adalah jalan kaki, dan yang lainnya adalah menyewa mobil bak terbuka yang langsung mengantarkan hingga pos.

Sebenarnya jalur menuju pos hanyalah jalan beraspal yang rusak, yang menurut saya malah bikin pantat aduhai sakitnya jika menuju pos dengan duduk santai di mobil bak terbuka.

Enaknya, dengan tiba lebih pagi di pos pendakian, nantinya bisa beristirahat terlebih dahulu sambil ngopi – ngopi ria.

Waktu tempuh hingga pos pendakian kira – kira 30 menit, enggak lebih. Kecuali mobil yang kalian tumpangi ban-nya  bocor di tengah jalan :p

Untuk sebuah pos awal pendakian, fasilitas yang ada di pos pendakian awal Gunung Papandayan ini termasuk mewah dan lengkap.

Ada beberapa warung yang siap memanjakan perut, ada juga listrik dari genset yang siap memberi makan gadget peliharaan, sehingga tetap bisa bernarsis ria nantinya ketika mendaki (dengan catatan, harus beli makanan di warung, dan numpang charging gadget).

Di pos pendakian ada juga satu kamar mandi yang bisa digunakan untuk keperluan bersih – bersih diri. Entah untuk cuci muka atau mandi, terserah!

Saya sih enggak mau, mengingat suhu udara saja sudah bisa bikin menggigil, apalagi mandi dengan air sedingin es!

Kalian mau? Saya sih cuci muka aja sudah cukup 😀

Jam 5:30, Mari Mendaki

Untuk yang sudah sering mendaki, rute menuju pos tempat kemping yaitu Pondok Salada masuk ke dalam kategori ringan, sehingga enggak terlalu berat untuk pemula seperti saya.

Pastikan saja membawa alat penerangan yang memadai jika memulai pendakian di pagi buta.

Berdasarkan pengalaman saya kemarin, ber-navigasi malam hari memang lumayan sulit.

Beberapa kali saya harus melihat peta di gadget yang ternyata juga tidak banyak membantu.

Tipsnya, lihatlah dengan seksama sisa – sisa jejak ditanah, hal itu akan lebih membantu.

Trek awal Gunung Papandayan adalah kawah belerang yang masih aktif, jadi akan tercium bau belerang yang lumayan tajam sepanjang jalur awal.

Selanjutnya trek akan melewati sungai kecil, yang penuh dengan batu. Batu tadi bisa digunakan sebagai pijakan jika tidak ingin kaki basah dah kedinginan.

Trek terakhir yang ujungnya adalah Pondok Salada, lumayan menanjak dengan pijakan batu kerikil dan pasir yang licin.

Berhati hatilah disini, karena salah pijakan bisa saja jatuh dan tergelincir.

Tanpa tersesat, saya sampai pondok salada pada pukul 07:00 atau dengan 2,5 jam jalan kaki.

Pondok Salada, Mari Mendirikan Tenda

Saya sampai di Pondok Salada terlalu pagi, mau langsung naik ke puncak pun masih terlalu kepayahan.

Jadinya mendirikan tenda adalah pilihan bagus, dan ketika saya datang sudah ada beberapa tenda yang berdiri di tempat ini.

Entah dari kapan mereka mendirikan tendanya.

Dari pengalaman teman saya yang sudah beberapa kali mendaki gunung, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika mendirikan tenda, beberapa adalah :

  1. Usahakan cari tempat yang datar, agar mudah untuk mendirikan tenda.
  2. Cari tempat yang terlindung, karena jika ada badai atau angin kencang tenda akan tetap kokoh berdiri. hembusan angin kencang akan tertahan pelindung seperti bebatuan atau pepohonan.
  3. Lebih baik tenda didirikan dibawah pohon, jadi enggak terpapar langsung panas matahari 😀 *adem*

Tenda yang saya bawa adalah tenda dome yang bisa dipasang dalam beberapa puluh menit saja.

Jadinya saya bisa segera sarapan dan kemudian tidur~~ Jujur saja, saya kurang tidur sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Garut.

Lebih baik tidur dulu, dan siangnya baru naik sampai ke Tegal Alun dan berburu foto di “Dead Forest”.

Eh? Apa itu hutan mati?

Foto Pengalaman Mendaki Gunung Papandayan Untuk Pemula

Udara segar adalah obat paling manjur dari asap polusi ibu kota, Jakarta.

Beruntung daerah Jawa Barat yang jaraknya hanya beberapa jam dari Jakarta punya banyak pegunungan.

Beberapa diantaranya seperti Gunung Papandayan lumayan mudah untuk dinaiki oleh seorang pendaki pemula seperti saya.

Nah, sebelum saya bercerita banyak tentang gunung yang berada di Garut ini, mungkin sedikit teaser dulu boleh dong! enjoy!

Di belakang saya adalah kawah belerang yang harus di lewati untuk menuju tempat kemping di Gunung Papandayan. Ini pagi hari jam 5-an lho! brrr....
Di belakang saya adalah kawah belerang yang harus di lewati untuk menuju tempat kemping di Gunung Papandayan. Ini pagi hari jam 5-an lho! brrr….
Mau tau capeknya naik lewat sisi bukit berbatu demi padang edelweis yang cantik?
Mau tau capeknya naik lewat sisi bukit berbatu demi padang edelweis yang cantik?
Padang edelweis yang ini nih maksud saya. weittss... ini belom ada apa - apa nya, ada yang lebih keren dari ini :)
Padang edelweis yang ini nih maksud saya. weittss… ini belom ada apa – apa nya, ada yang lebih keren dari ini 🙂
Senangnya bisa sampe tegal alun! Ada padang edelweisnya juga disini, dan udaranya seger banget!
Senangnya bisa sampe tegal alun! Ada padang edelweisnya juga disini, dan udaranya seger banget!
Bertemu teman - teman pendaki yang lain :) *asek - asek, nambah temen*
Bertemu teman – teman pendaki yang lain 🙂 *asek – asek, nambah temen*
Enggak ketinggalan merasakan sensasi turun lewat tanjakan mamang! *naiknya belom, next time yah*
Enggak ketinggalan merasakan sensasi turun lewat tanjakan mamang! *naiknya belom, next time yah*
Nah, kalau ini dead forest Gunung Papandayan yang kesannya mistis banget *hiiii*
Nah, kalau ini dead forest Gunung Papandayan yang kesannya mistis banget *hiiii*
Sunrise di Gunung Papandayan enggak ketinggalan juga dong yah.
Sunrise di Gunung